Showing posts with label 2018 at 01:15PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 01:15PM. Show all posts

Monday, December 24, 2018

Menu Ayam Kecap Tak Mampu Obati Kerisauan Korban Tsunami

Jakarta, CNN Indonesia -- Nani (65) hanya duduk termangu dengan tatapan kosong saat CNNIndonesia.com menghampirinya di lapangan futsal yang dijadikan posko pengungsian korban tsunami Selat Sunda di Kecamatan Labuan, Banten, Senin (24/12).

Nani tahu sebentar lagi waktunya makan siang. Namun, Nani seolah tak peduli. Dia nampak tak berselera dengan harum masakan yang mulai berseliweran di lingkungan posko. Siang itu, Nani akan disajikan nasi putih, ayam kecap, dan tumis buncis.

"Enggak selera. Masih takut," ucap Nani.


Diketahui, Kemensos menyulap dua lapangan futsal menjadi lokasi pengungsian. Ada sekitar 200 orang yang tinggal di sana pascatsunami menerjang pada Sabtu lalu (22/12).

Pemandangan di sana nampak sibuk. Anak-anak bermain di lapangan yang lega. Orang orang tua banyak yang duduk termangu dengan tatapan kosong. Tidak sedikit juga dari mereka yang tidur.

Di samping lapangan, Kemensos mendirikan beberapa tenda yang difungsikan sebagai dapur umum. Terlihat beberapa bahan makanan tengah dimasak. Belasan petugas mondar mandiri menyiapkan 6 ribu porsi untuk para pengungsi di berbagai lokasi.


Di dekat meja yang digunakan untuk memasak, terpampang poster kuning bertuliskan menu yang akan disajikan.

Di sana tertulis, menu 24 Desember pagi adalah nasi putih, telur dadar, dan nasi goreng. Lalu menu makan siang adalah nasi putih, ayam kecap, orek tempe, dan nasi buncis. Kemudian menu makan malam yakni nasi putih telur balado dan mi goreng.

Tertulis pula menu untuk 25 Desember. Santapan pagi untuk pengungsi yakni berupa nasi putih, opor ayam, dan tempe orek. Menu siang adalah nasi putih, tumis jamur, perkedel kornet dan kerupuk. Pada malam hari, koki akan menyajikan nasi putih, sarden, mi goreng, tumis sawi, dan tahu goreng.

"Enggak mau makan. Nanti saja," kata Nani.

Posko pengungsian warga Banteng usai tsunami Selat Sunda. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)

Nani mengaku sudah tak punya rumah. Selama ini, dia tinggal bersama anak dan mantu serta cucunya. Akan tetapi, tsunami baru saja meluluhlantakkan rumah mereka.

Nani begitu cemas dengan hari esok. Dia mengaku tidak tahu bagaimana memulai semuanya lagi. Terlalu banyak kerisauan yang ada dalam benak sehingga Nani tak berselera dengan masakan dapur umum.

"Enggak tahu besok mau apa lagi. Sudah enggak punya rumah. Enggak pernah sampai kayak begini," ucap Nani.


Beberapa langkah dari Nani berada, Desi (43) bersama beberapa warga lainnya nampak terduduk. Dia tengah menunggu koki dapur umum selesai memasak makan siang untuk para pengungsi. Wajahnya nampak antusias.

"Iya lapar soalnya. Enggak tahu kenapa gampang lapar," ucap Desi seraya terkekeh.

Bagi Desi, yang sehari-hari berdagang makanan dan minuman di tepi pantai, menu tersebut sangat enak. Dia mengaku senang dapur umum cenderung berganti menu setiap harinya.

"Sebetulnya enggak tahu ya masakannya itu enak atau enggak. Tapi kalau kondisi sekarang, pasti enak enak aja buat kita," kata Desi.

"Iya kita sudah enggak punya rumah. Justru kalau dipikirin terus malah sakit nanti. Mendingan makan aja. Yang penting makan. Bersyukur masih selamat," kata salah seorang pengungsi di samping Desi.

(bmw/DAL)

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2EHmW37
December 25, 2018 at 01:15PM from CNN Indonesia http://bit.ly/2EHmW37
via IFTTT
Share:

Saturday, December 1, 2018

'Perlawanan' ala Anak Punk di Reuni Aksi 212

Jakarta, CNN Indonesia -- Iip Kiswaryadi tampak bersemangat membagikan mie instan yang sudah matang kepada massa Aksi Reuni 212, meskipun waktu telah menunjukkan lebih dari pukul 00.00 WIB.

Dengan ramah, pria yang sebelumnya bergelut sebagai 'anak punk' sejak tahun 1996 itu asyik melayani massa yang sudah mengantre panjang.

Iip tak sendirian. Ada sepuluh orang 'anak punk' lainnya yang ikut Reuni Aksi 212. Mereka membantu kawan-kawan dari Gerak Bareng Community untuk membagikan makanan.


Bagi pria yang kini menjabat sebagai koordinator Komunitas Punk Muslim, Reuni Aksi 212 menjadi ajang menambah pahala. Karena dirinya bisa ikut membantu memberikan bantuan, meskipun hanya lewat tenaga.

"Kami gabung dari teman-teman Gerak Bareng. Mereka sediakan logistik. Kalau teman-teman Punk Muslim, kami bantu tenaga," ujar Iip di sela kesibukannya di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2/12).


Iip mengatakan Punk Muslim dan Gerak Bareng Community memang sudah mempersiapkan hal ini sejak seminggu lalu. Bersama-sama, kedua komunitas ini menempati salah satu tenda yang ada di Monas.

Iip mengaku sudah tidak asing dengan kegiatan tersebut meski anggapan tentang dirinya sebagai anak punk dianggap negatif.

Tertarik Mendalami Agama

Iip mengaku mulai tertarik dengan agama sejak 2007. Kala itu, almarhum Budi Khoironi yang merupakan sahabatnya memiliki keinginan membawa Punk ke arah yang lebih baik. Walaupun berjiwa bebas dan memberontak, namun tidak jauh dari nilai-nilai agama.

Iip mengaku selalu diberikan pencerahan oleh Budi. Sampai kemudian dirinya pun merenungkan ajakan Budi dan memilih berhijrah tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai anak Punk.


"Setahun lah saya terus memikirkan dan ngikutin perkataan Budi, baru menyatakan gabung komunitas," kata dia.

Di komunitas Punk Muslim, Iip mengatakan dirinya mendapatkan banyak pelajaran soal agama. Salah satu yang paling berharga, kata dia, adalah kesabaran dalam mendapatkan rezeki.

Iip menceritakan kala hidup di jalanan tiada hari tanpa emosi karena lingkungan yang keras memaksanya melawan dengan arogan.

Ketika mengamen, misalnya. Kata Iip, dirinya tak segan-segan mengumpat bahkan memukul warga yang tak memberinya uang. Tapi, kata Iip, itu dulu ketika dirinya belum mengenal agama.

Saat ini, meskipun situasinya semakin sulit terlebih bus kota mulai tergantikan dengan Transjakarta, Iip tidak takut rezekinya akan ikut mati juga.


Ia mengatakan dirinya masih bisa mengamen ke rumah-rumah warga atau pasar untuk mendapatkan rezeki.

Meskipun harus berjalan lebih jauh dibandingkan naik turun bus kota, namun kata Iip, dirinya merasa mendapatkan rezeki yang cukup.

"Enggak emosi lagi. Kita kan sudah dituangin (diajarin) agama sama ustaz kita. Jadi mengerti lah. Enggak usah takut rezeki seret, bergerak saja. Yang pentingnya kita berusaha saja," ucap Iip.

Iip mengatakan, kini kesibukannya sehari-hari tak hanya mengamen. Sesekali ia menyambangi kawan-kawannya sesama anak jalanan di bilangan Tebet, Jakarta Selatan atau Depok, Jawa Barat. Di sana, Iip menyampaikan Dakwah.


Iip mengaku salah satu alasannya melakukan ini untuk meneruskan niat Budi, sang sahabat. Bagi Iip, Punk sedianya tak jauh dari agama. 

"Perlawanan dan kebebasan tanpa agama sama saja kayak binatang. Jadi, Punk Muslim itu perlawanan dan kebebasan didampingi dengan agama," kata Iip

(fhr/lav)

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2FT6yig
December 02, 2018 at 01:15PM from CNN Indonesia https://ift.tt/2FT6yig
via IFTTT
Share: