Showing posts with label 2018 at 07:34PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 07:34PM. Show all posts

Monday, December 24, 2018

Said Didu Ingatkan Jokowi soal Kasus 'Papa Minta Saham'

Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Said Didu mengingatkan Presiden Joko Widodo soal kasus 'Papa Minta Saham' usai Pemerintah membeli 51,23 persen saham PT Freeport Indonesia.

Said meminta Jokowi untuk menyingkirkan pihak-pihak yang hanya ingin mencari keuntungan sendiri lewat Freeport.

"Saat saya membongkar 'Papa Minta Saham', itu adalah puncak gunung es, banyak tokoh yang 'main' di Freeport. Saya harap tokoh-tokoh itu harus dibersihkan agar investasi yang kita tanamkan dengan utang cukup besar ini oleh Inalum tidak rugi," kata Said saat ditemui di Jakarta, akhir pekan lalu.


Kasus Papa Minta Saham sendiri terjadi pada 2015 ketika Menteri ESDM kala itu, Sudirman Said, melaporkan Setya Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) di DPR terkait pencatutan nama Presiden RI Joko Widodo dalam perbincangan tentang saham Freeport antara Presiden PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin, Setya, dan pengusaha Riza Chalid.

Setya saat itu diduga meminta saham sebagai imbalan memuluskan perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia.

Tanpa menyebut nama, Said juga menyebut banyak mafia berkedok politisi yang mencari kehidupan di Freeport.


Tak Perlu Dilebih-lebihkan

Selain mengingatkan Jokowi soal pihak-pihak yang berkepentingan, Said mengatakan sebenarnya proses pengambilalihan saham Freeport adalah langkah korporasi biasa sehingga tak perlu dilebih-lebihkan.

Pembelian saham ini, kata dia, didukung lima faktor. Selain karena faktor kesulitan Freeport McMoran memperpanjang kontrak yang hampir habis, ada pula faktor Undang-undang Minerba yang memberatkan McMoran.

Selain itu, menurut Said, Freeport McMoran juga memiliki niat menjual saham. Bak gayung bersambut, Inalum mendapat pinjaman dan kebijakan pemerintahan Jokowi mendukung.

"Suatu langkah korporasi biasa, pengambilalihan terjadi ya karena memang harus terjadi," ucap Said.


Ia menilai klaim Pemerintah yang begitu gembar-gembor malah mencerminkan kebijakan ini cenderung politis.

"Freeport ini tidak selalu untung. Karena itu saya harap betul-betul Freeport ini harus diisolasi dari kepentingan politik siapapun karena sangat rawan," tutur dia.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia mengambilalih 51,23 persen saham PT Freeport Indonesia lewat PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum). Inalum telah membayar US$ 3.85 miliar atau sekitar Rp56 triliun kepada Freeport McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto untuk itu.

Inalum bakal menguasai 41,23 persen, sedangkan 10 persen sisanya akan jadi jatah Pemda Papua. Sementara Freeport McMoran masih memegang 48,77 persen sisanya.

Guna membiayai akuisis Freeport, Inalum telah menerbitkan obligasi global sebesar US$4 miliar atau sekitar Rp58 triliun (kurs Rp14.500).

(dhf/vws)

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2GGCwi2
December 25, 2018 at 07:34PM from CNN Indonesia http://bit.ly/2GGCwi2
via IFTTT
Share:

Saturday, December 15, 2018

Memacu Adrenalin di Ketinggian Queensland

CNN Indonesia | Minggu, 16/12/2018 12:34 WIB

Brisbane, CNN Indonesia -- Sebagai seseorang yang takut ketinggian, berada di tempat tinggi tentu menjadi pengalaman yang sangat menegangkan. Keringat dingin, kaki gemetar, dan putih pucat rasanya jadi gejala wajar yang akan dialami.

Meski tak sampai mengidap acrophobia akut, seumur hidup saya tak mau ambil risiko melakukan kegiatan ekstrem dengan ketinggian. Sebut saja panjat tebing, naik gunung, atau sekadar mencoba roller coaster di taman bermain.

Namun saat berkunjung ke Gold Coast, salah satu kota di Queensland, Australia pada akhir November kemarin, saya akhirnya mematahkan rekor takut ketinggian.

Atas undangan dari Singapore Airlines dan Tourism & Events Queensland, mau tak mau saya harus mencoba melakukan kegiatan dengan ketinggian.

Bukan hanya satu, melainkan ada empat kegiatan dengan ketinggian yang harus saya lakukan!

Naik Balon Udara di Gold Coast

Aktivitas yang pertama saya lakukan adalah naik balon udara di Gold Coast. Saya harus bangun pukul 03.00 dini hari lantaran naik balon udara harus dilakukan di waktu yang sangat pagi. Jika terlalu siang, udara sudah terlalu terik dan sulit mengendalikan arah balon udara.

Saya dan rombongan jurnalis Indonesia dan Malaysia dijemput petugas dari Hot Air Balloon Gold Coast pukul 04.00 pagi di apartemen Ruby Collection yang menjadi tempat saya menginap. Dengan baju yang dibalut jaket tipis rasanya cukup untuk melawan udara dingin pagi itu.

Perjalanan menuju tempat balon udara di kawasan Canungra membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Uniknya naik balon udara adalah kami tak pernah tahu akan berangkat dari titik mana. Sebab, lokasi pemberangkatan dan pemberhentian balon udara akan selalu berpindah mengikuti arah angin.

Seperti pagi itu, kami berangkat dari titik di Jimboomba. Sebelum terbang, kami diminta untuk meninggalkan tas dalam kotak besar yang ditinggal di daratan. Kami hanya boleh membawa perlengkapan seperlunya seperti ponsel atau kamera.

Satu keranjang balon udara mampu menampung 15 hingga 20 orang. Terdapat dua sisi keranjang, satu keranjang diisi rombongan serta pemandu kami, Kate Fulton. Sementara di sisi keranjang satunya diisi sejumlah wisatawan dari India. Sedangkan Ben, si pengendali berada di tengah keranjang untuk mengatur laju balon udara.

Ben beberapa kali menyulut bahan bakar berisi gas hidrogen yang berfungsi mengangkat balon udara. Sesekali terdengar bunyi kobaran api yang cukup keras.

Saya yang duduk tak jauh di bawah alat berisi bahan bakar itu merasakan panas di sekitar wajah tiap kali api dinyalakan. Namun Ben memastikan bahwa itu tak berbahaya.

Sebelum terbang, Ben meminta semua penumpang berdiri dengan rapi. Ia juga mengajari kami cara berdiri yang benar ketika balon udara akan mendarat.

Saking senangnya, saya hampir tak merasakan ketika balon udara itu mulai bergerak. Perasaan takut sebelum terbang, hilang begitu saja ketika melihat balon udara mulai naik ke atas pada pukul 05.45.

Tak ada guncangan, atau gerakan yang membuat saya bergidik ngeri di dalam keranjang balon udara. Dengan kendali Ben yang telah bersertifikat, balon udara itu terbang dengan sempurna.

Dari atas ketinggian, saya menikmati pemandangan kawasan pedalaman Gold Coast yang sangat hijau. Sejumlah kanguru dan sapi khas Australia bahkan terlihat sedang asyik merumput. Mereka terlihat seperti mainan.

Rasa-rasanya waktu berhenti ketika saya berada di keranjang balon udara. Tak berlebihan rasanya jika saya menyebut ini sebagai momen menegangkan seumur hidup.

Gold Coast terlihat begitu luas dari ketinggian. Beberapa gedung di pusat kota bahkan juga terlihat dari kejauhan. Balon udara itu terus bergerak sesuai arah angin dan mampu terbang hingga 2.700 kaki.

Selama di dalam keranjang, Ben membebaskan kami untuk bergerak. Udara yang semula dingin pun berangsur menghangat.

Saya melirik jarum jam, tak terasa sudah 30 menit kami berada di udara. Ben mengatakan, sebelum pukul 07.00 kami sudah harus turun karena udara akan semakin bertambah panas.

Cara turun dari balon udara ternyata juga cukup unik. Balon udara tak mendarat begitu saja. Kami diminta berpegangan erat pada tali yang berada di sisi tengah keranjang.

Tanpa basa-basi, Ben mendadak menggulingkan keranjang hingga posisi kami berubah berbaring. Di situlah kami sontak berteriak. Keranjang yang semula tegak perlahan mulai miring.

Saat digulingkan, rasanya seperti akan jatuh. Kami tertawa terbahak karena ternyata tak seseram yang dibayangkan.

Dari tempat pemberhentian balon udara di Beaudesert, kami dijemput dengan mobil menuju kebun anggur O'Reilly di lembah Canungra untuk sarapan. Benar juga, sejak dini hari tadi perut kami belum terisi makanan.

Sebuah bangunan rumah kayu minimalis beratap merah menjadi tempat kami sarapan. Di depannya terbentang kebun anggur yang sangat luas. Udaranya terasa sangat bersih hingga membuat saya terdiam sejenak untuk menikmati.

Menu sarapan pagi itu adalah telur urak-arik, daging sapi, jamur, kentang, lengkap dengan buah dan jus jeruk yang dibuat sendiri. Saya juga sempat mencicip white wine khas OíReilly yang menjadi welcome drink begitu rombongan kami tiba di sana.

Selain tempat sarapan dan kebun anggur, OíReilly juga memiliki lahan hijau cukup luas yang bersisian dengan Sungai Canungra. Saya yakin siapapun betah berlama-lama menghabiskan waktu di sana meski hanya sekadar duduk.

Biaya untuk naik balon udara dipatok sebesar 280 AUD atau sekitar Rp2,9 juta. Biaya itu sudah sepaket dengan sarapan di OíReilly dan sertifikat naik balon udara.

Pengalaman saya menjajal wisata ketinggian di Queensland masih berlanjut ke halaman berikutnya...

(pris/ard)


1 dari 4

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2Ex0870
December 16, 2018 at 07:34PM from CNN Indonesia https://ift.tt/2Ex0870
via IFTTT
Share:

Memacu Adrenalin di Ketinggian Queensland*

CNN Indonesia | Minggu, 16/12/2018 12:34 WIB

Brisbane, CNN Indonesia -- Sebagai seseorang yang takut ketinggian, berada di tempat tinggi tentu menjadi pengalaman yang sangat menegangkan. Keringat dingin, kaki gemetar, dan putih pucat rasanya jadi gejala wajar yang akan dialami.

Meski tak sampai mengidap acrophobia akut, seumur hidup saya tak mau ambil risiko melakukan kegiatan ekstrem dengan ketinggian. Sebut saja panjat tebing, naik gunung, atau sekadar mencoba roller coaster di taman bermain.

Namun saat berkunjung ke Gold Coast, salah satu kota di Queensland, Australia pada akhir November kemarin, saya akhirnya mematahkan rekor takut ketinggian.

Atas undangan dari Singapore Airlines dan Tourism & Events Queensland, mau tak mau saya harus mencoba melakukan kegiatan dengan ketinggian.

Bukan hanya satu, melainkan ada empat kegiatan dengan ketinggian yang harus saya lakukan!

Naik Balon Udara di Gold Coast

Aktivitas yang pertama saya lakukan adalah naik balon udara di Gold Coast. Saya harus bangun pukul 03.00 dini hari lantaran naik balon udara harus dilakukan di waktu yang sangat pagi. Jika terlalu siang, udara sudah terlalu terik dan sulit mengendalikan arah balon udara.

Saya dan rombongan jurnalis Indonesia dan Malaysia dijemput petugas dari Hot Air Balloon Gold Coast pukul 04.00 pagi di apartemen Ruby Collection yang menjadi tempat saya menginap. Dengan baju yang dibalut jaket tipis rasanya cukup untuk melawan udara dingin pagi itu.

Perjalanan menuju tempat balon udara di kawasan Canungra membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Uniknya naik balon udara adalah kami tak pernah tahu akan berangkat dari titik mana. Sebab, lokasi pemberangkatan dan pemberhentian balon udara akan selalu berpindah mengikuti arah angin.

Seperti pagi itu, kami berangkat dari titik di Jimboomba. Sebelum terbang, kami diminta untuk meninggalkan tas dalam kotak besar yang ditinggal di daratan. Kami hanya boleh membawa perlengkapan seperlunya seperti ponsel atau kamera.

Satu keranjang balon udara mampu menampung 15 hingga 20 orang. Terdapat dua sisi keranjang, satu keranjang diisi rombongan serta pemandu kami, Kate Fulton. Sementara di sisi keranjang satunya diisi sejumlah wisatawan dari India. Sedangkan Ben, si pengendali berada di tengah keranjang untuk mengatur laju balon udara.

Ben beberapa kali menyulut bahan bakar berisi gas hidrogen yang berfungsi mengangkat balon udara. Sesekali terdengar bunyi kobaran api yang cukup keras.

Saya yang duduk tak jauh di bawah alat berisi bahan bakar itu merasakan panas di sekitar wajah tiap kali api dinyalakan. Namun Ben memastikan bahwa itu tak berbahaya.

Sebelum terbang, Ben meminta semua penumpang berdiri dengan rapi. Ia juga mengajari kami cara berdiri yang benar ketika balon udara akan mendarat.

Saking senangnya, saya hampir tak merasakan ketika balon udara itu mulai bergerak. Perasaan takut sebelum terbang, hilang begitu saja ketika melihat balon udara mulai naik ke atas pada pukul 05.45.

Tak ada guncangan, atau gerakan yang membuat saya bergidik ngeri di dalam keranjang balon udara. Dengan kendali Ben yang telah bersertifikat, balon udara itu terbang dengan sempurna.

Dari atas ketinggian, saya menikmati pemandangan kawasan pedalaman Gold Coast yang sangat hijau. Sejumlah kanguru dan sapi khas Australia bahkan terlihat sedang asyik merumput. Mereka terlihat seperti mainan.

Rasa-rasanya waktu berhenti ketika saya berada di keranjang balon udara. Tak berlebihan rasanya jika saya menyebut ini sebagai momen menegangkan seumur hidup.

Gold Coast terlihat begitu luas dari ketinggian. Beberapa gedung di pusat kota bahkan juga terlihat dari kejauhan. Balon udara itu terus bergerak sesuai arah angin dan mampu terbang hingga 2.700 kaki.

Selama di dalam keranjang, Ben membebaskan kami untuk bergerak. Udara yang semula dingin pun berangsur menghangat.

Saya melirik jarum jam, tak terasa sudah 30 menit kami berada di udara. Ben mengatakan, sebelum pukul 07.00 kami sudah harus turun karena udara akan semakin bertambah panas.

Cara turun dari balon udara ternyata juga cukup unik. Balon udara tak mendarat begitu saja. Kami diminta berpegangan erat pada tali yang berada di sisi tengah keranjang.

Tanpa basa-basi, Ben mendadak menggulingkan keranjang hingga posisi kami berubah berbaring. Di situlah kami sontak berteriak. Keranjang yang semula tegak perlahan mulai miring.

Saat digulingkan, rasanya seperti akan jatuh. Kami tertawa terbahak karena ternyata tak seseram yang dibayangkan.

Dari tempat pemberhentian balon udara di Beaudesert, kami dijemput dengan mobil menuju kebun anggur O'Reilly di lembah Canungra untuk sarapan. Benar juga, sejak dini hari tadi perut kami belum terisi makanan.

Sebuah bangunan rumah kayu minimalis beratap merah menjadi tempat kami sarapan. Di depannya terbentang kebun anggur yang sangat luas. Udaranya terasa sangat bersih hingga membuat saya terdiam sejenak untuk menikmati.

Menu sarapan pagi itu adalah telur urak-arik, daging sapi, jamur, kentang, lengkap dengan buah dan jus jeruk yang dibuat sendiri. Saya juga sempat mencicip white wine khas OíReilly yang menjadi welcome drink begitu rombongan kami tiba di sana.

Selain tempat sarapan dan kebun anggur, OíReilly juga memiliki lahan hijau cukup luas yang bersisian dengan Sungai Canungra. Saya yakin siapapun betah berlama-lama menghabiskan waktu di sana meski hanya sekadar duduk.

Biaya untuk naik balon udara dipatok sebesar 280 AUD atau sekitar Rp2,9 juta. Biaya itu sudah sepaket dengan sarapan di OíReilly dan sertifikat naik balon udara.

Pengalaman saya menjajal wisata ketinggian di Queensland masih berlanjut ke halaman berikutnya...

(pris/ard)


1 dari 4

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2EnVTJS
December 16, 2018 at 07:34PM from CNN Indonesia https://ift.tt/2EnVTJS
via IFTTT
Share:

Saturday, November 17, 2018

Kubu Jokowi Akui Sudah Muliakan Keberadaan Kaum Disabilitas

Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Koalisi Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin mengakui selama ini pemerintah telah optimal dalam memberi perhatian kepada kaum disabilitas. Juru Bicara TKN, Ace Hasan Syadzily mengatakan, pihaknya sangat memuliakan dan sangat menghargai para kaum disabilitas.

"Pemerintah Jokowi terbukti telah mampu menyelenggarakan event spektakuler terbesar se-Asia untuk kelompok disabilitas, yaitu Asian Para Games 2018 yang membanggakan itu," kata Ace Hasan kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (17/11).

Ace mengatakan, rangkaian kegiatan monumental itu bahkan diakui oleh seluruh dunia. Ace pun menanggapi sejumlah langkah kubu Prabowo-Sandi terkait upaya 'curi simpati' kaum disabilitas, dalam hal ini tunanetra. Misalnya, rencana pencetakan uang braille dan wacana pembentukan Komnas Disabilitas.

"Uang braille sebenarnya sudah dilakukan pemerintah saat ini. Uang cetakan terbaru sudah sangat ramah terhadap tunanetra, ada petunjuk tentang informasi nilai uang yang bisa didapatkan tunanetra," kata Ace.


Ditanya soal rencana Komnas Disabilitas, kata Ace, hal itu bukanlah suatu fenomena yang baru. Menurutnya, Komnas Disabilitas memang amanat Undang-Undang. Dalam hal ini Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016.

"Dalam waktu dekat pemerintah juga akan membuat Komnas Disabilitas. Saat ini semua dalam tahap sinkronisasi antara Kemensos dan KemenpanRB," kata Ace.

Keberadaan kaum disabilitas Indonesia belakangan ini kerap menjadi komoditas yang dinilai seksi jelang kontestasi pilpres. Eksistensi kaum tunanetra di kancah politik, misalnya, muncul ketika mereka menggugat ke Badan Pengawas Pemilu, cawapres nomor urut 02, Ma'ruf Amin ke Bawaslu terkait ucapan 'budek-buta'.


Teranyar, seolah memanfaatkan celah tersebut, kubu Prabowo-Sandi menjanjikan bakal mencetak uang braille, untuk para tunanetra. Direktur Komunikasi dan Media BPN, Hashim Djojohadikusumo mengungkap niatan tersebut.

"Itu ide saya untuk bikin mata uang braille. Kami dapat aspirasi dari tunanetra ada banyak yang bekerja jadi tukang pijat di panti," kata Hashim, Jumat (16/11) malam.


Kubu Jokowi Akui Sudah Muliakan Keberadaan Kaum DisabilitasDahnil Anzar mengatakan Prabowo akan membentuk Komnas Disabilitas. (Antara/Hafidz Mubarak A)

Hashim bahkan menyayangkan lambannya pemerintahan Presiden Joko Widodo yang belum menyelesaikan pembuatan peraturan pemerintah (PP) tentang penyandang disabilitas.

PP tersebut sebagai peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang telah diketok pada 15 April 2016 lalu. Menurut Hashim, pembuatan PP tersebut telah lewat lebih dari dua tahun.

"Sampai sekarang ini, dua tahun belum ada PP, Juklak (petunjuk pelaksana), Juknis (petunjuk teknis)," kata Hashim. (ain)

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2Tna2fk
November 17, 2018 at 07:34PM from CNN Indonesia https://ift.tt/2Tna2fk
via IFTTT
Share: