Showing posts with label 2018 at 07:39PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 07:39PM. Show all posts

Saturday, November 17, 2018

Aktivis Greenpeace Ditahan Tanker Minyak Sawit di Teluk Cadiz

Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak enam aktivis Greenpeace ditahan kapten kapal tanker raksasa Stolt Tenacity saat aksi damai menaiki kapal kargo sepanjang 185 meter pengangkut minyak sawit (crude palm oil/CPO) milik Wilmar International di Teluk Cadiz, dekat Spanyol.

Relawan Greenpeace International yang berasal Indonesia, Jerman, Inggris, Prancis, Kanada, dan Amerika Serikat melakukan aksi damai memprotes perusakan hutan di Indonesia dengan menaiki dengan aman dan damai Kapal Stolt Tenacity yang membawa muatan minyak sawit dari Indonesia ke Eropa.

"Kami memiliki keterbatasan kontak radio dengan sukarelawan kami dan telah meminta kapten kapal untuk membebaskan mereka sehingga mereka dapat terus melakukan protes damai terhadap perusahaan seperti Wilmar yang mengirimkan minyak sawit kotor dari perusak hutan ke 'supermarket' dan rumah kami," kata juru kampanye di kapal Greenpeace Esperanza Hannah Martin dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Minggu.


CNNIndonesia.com sudah berusaha mengklarfikasi peristiwa ini ke pihak Wilmar di Indonesia. Pihak Wilmar Indonesia saat ini dalam posisi masih menunggu pernyataan resmi dari pihak Wilmar yang berbasis di Singapura.

Esperanza mengatakan para aktivis sebelum ditahan berhasil membentangkan spanduk bertuliskan "Save our Rainforest" (Selamatkan Hutan Hujan Kita) dan "Drop Dirty Palm Oil" (Hentikan Minyak Sawit Kotor).

Kapten kapal tersebut telah diberitahu melalui saluran radio VHF tentang protes damai dan tanpa kekerasan itu. Namun, ia telah menahan para relawan di salah satu kabin kapal kargo.

Aktivis Greenpeace Ditahan Saat Duduki Kapal Kargo Minyak Personel Boomerang saat ikut aksi di atas kapal kargo minyak sawit yang digagas Greenpeace di Sulawesi Utara, beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Wilmar adalah pemasok utama minyak sawit untuk sebuah perusahaan raksasa makanan ringan, yaitu Mondelez, yang merupakan salah satu pembeli minyak sawit terbesar di dunia dan menggunakan minyak sawit tersebut di banyak produknya yang paling terkenal, termasuk biskuit Oreo, cokelat Cadbury, dan biskuit Ritz.

Investigasi terbaru Greenpeace International menemukan bahwa pemasok minyak sawit Mondelez telah menghancurkan 70.000 hektare hutan di seluruh Asia Tenggara dalam dua tahun dan juga menemukan bukti terkait dengan persoalan kebakaran hutan, mempekerjakan anak-anak, eksploitasi pekerja, penebangan ilegal, hingga perampasan tanah.

"Minyak sawit dapat diproduksi tanpa merusak hutan. Lebih dari satu juta orang di seluruh dunia menuntut tindakan nyata. Sekarang saatnya bagi Mondelez dan merek rumah tangga lainnya untuk mendengarkan seruan kepada mereka untuk menjauhi Wilmar hingga terbukti minyak sawitnya bersih," kata Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Asia Tenggara yang berada di atas kapal Greenpeace Esperanza Kiki Taufik.


Greenpeace menyerukan kepada Mondelez untuk berhenti berdagang dengan Wilmar sampai minyak sawit yang berasal dari produsen itu dapat dibuktikan tidak lagi menghancurkan hutan atau mengeksploitasi tenaga kerja dan anak-anak.
Aktivis Greenpeace Ditahan Saat Duduki Kapal Kargo Minyak Aksi Greenpeace di kapal kargo minyak sawit di Sulawesi Utara beberapa waktu lalu. (Greenpeace/Jurnasyanto Sukarno)

Kapal kargo Stolt Tenacity membawa minyak sawit dari kilang penyulingan Wilmar di Dumai, Riau. Berdasarkan data milik Wilmar, kilang itu menampung pasokan minyak sawit Bumitama, Djarum, keluarga Fangiono, dan Gama.

Fasilitas Wilmar lainnya memasok satu atau dua dari dua kilang, termasuk kilang Multi Nabati Sulawesi milik Wilmar, yang diduduki oleh Greenpeace pada September 2018.

"Saya berasal dari Indonesia. Saya telah menyaksikan dampak deforestasi terkait ulah perusahaan perkebunan sawit nakal yang menyebabkan kota-kota kami tercekik oleh kabut asap kebakaran hutan. Saya di sini untuk mengirim pesan ke Mondelez bahwa minyak sawit kotor Wilmar telah menghancurkan rumah kami," kata pemanjat asal Sulawesi Utara Waya Maweru.


Negara di kawasan tropis telah menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca setiap tahun daripada seluruh Uni Eropa, mengungguli setiap negara kecuali Amerika Serikat dan Tiongkok.

Pada Oktober 2018, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyerukan penghentian segera deforestasi untuk membatasi suhu global yang meningkat menjadi 1,5 derajat celcius. (gil)

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2DJMX21
November 18, 2018 at 07:39PM from CNN Indonesia https://ift.tt/2DJMX21
via IFTTT
Share:

'Meluncur' ke Geopark Ciletuh-Palabuhanratu

Sukabumi, CNN Indonesia -- Mengunjungi kawasan Sukabumi yang bukan jalur pabrik, bagi saya seperti kembali ke 'rumah'. Konsep rumah di sini adalah tempat di mana menikmati waktu bermain terasa jauh lebih penting, ketimbang memupuk saldo di rekening.

Meskipun akses menuju Sukabumi dari Jakarta masih tergolong belum baik, namun rasanya jauh lebih bermartabat ketimbang naik bus Trans Jakarta dengan rute Pinang Ranti - Pluit pada pukul 7 WIB di hari kerja.

Hari itu saya bersama dua orang teman beranjak meninggalkan Jakarta menuju Sukabumi dengan menggunakan mobil pribadi, tujuan kami adalah Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Niat kami ke sana adalah membuktikan apa yang sering berseliweran di sosial media.

Untuk mencapai Ciletuh, jalur yang harus ditempuh sama jika ingin menuju Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Rutenya adalah Jakarta - Ciawi - Sukabumi. Nanti setelah memasuki kawasan Cibadak, tepatnya setelah pasar Cibadak, belok kanan dan ikuti saja satu-satunya jalan yang mengarah ke Palabuhanratu.

Tapi jika ingin berangkat dari Jakarta atau kota lain di Jawa Barat menggunakan kendaraan umum, khususnya bus, pastikan menjejakkan kaki di terminal-terminal yang melayani rute Pelabuhan Ratu. Misalnya Bogor, Sukabumi, Depok, Kali Deres, Tanjung Priok, Bekasi, dan lainnya.

Tarif bus ini bervariatif, tergantung dari mana lokasi naik bus. Jika berangkat dari terminal Baranang Siang di Bogor, maka tarifnya berkisar Rp50 ribu per orang.

Sedangkan jika ingin menggunakan kereta api, berangkatlah dari Stasiun Paledang, yang terletak di dekat Stasiun Bogor, untuk menuju Sukabumi.

Kereta yang tersedia di Stasiun Paledang hanya tersedia untuk rute, Bogor-Sukabumi. Tiketnya bisa dipesan jauh-jauh hari melalui situs pemesanan tiket atau situs resmi PT.KAI.

Namun untuk menuju Palabuhanratu sebaiknya turun di Stasiun Cibadak, kemudian lanjutkan perjalanan dengan naik bus dari depan stasiun menuju Terminal Pelabuhan Ratu. Tarif bus dari Cibadak menuju Palabuhanratu berkisar Rp20-35 ribu.

Setelah sampai di Terminal Palabuhanratu, perjalanan menuju Ciletuh bisa dilanjutkan dengan menggunakan mobil microbus menuju Ciwaru, tarifnya berkisar Rp20-30 ribu. Sesampainya di Ciwaru, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menngunakan ojek ke kawasan Ciletuh.

Tentu kemampuan bernegosiasi sangat dibutuhkan dalam tahapan ini karena tidak ada patokan minimum dan maksimum, namun angka Rp30 ribu masih masuk dalam batas wajar.

Alternatif lainnya adalah menyewa motor di kawasan Cimaja, sekitar lima kilometer dari kota Palabuhanratu. Untuk mencapainya bisa menggunakan angkutan kota berwarna biru dengan rute Terminal Palabuhanratu - Terminal Cisolok, tarifnya Rp7.000.

Harga sewa motor di tempat ini sama seperti di kota-kota tujuan wisata, seperti Bali, Bandung, atau Yogyakarta yaitu dimulai dari Rp70 ribu per 24 jam.

Tentunya ada beberapa benda terkait identitas peminjam yang harus dijadikan jaminan seperti KTP (wajib), NPWP (pilihan), SIM A (pilihan), Kartu Mahasiswa (pilhan), Kartu BPJS (pilihan), Paspor (pilihan), atau pun lainnya.

Mengingat kerumitan dan biayanya yang belum pasti, maka menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan adalah pilihan yang masuk akal ketimbang menggunakan kendaraan umum. Mungin ini adalah sedikit masalah untuk menuju Teluk Ciletuh.

Memilih jalur panjang menuju Ciletuh

Saat itu, kami membutuhkan waktu sekitar lima jam untuk mencapai Palabuhanratu. Setelah sampai di Kota Palabuhanratu, kami mengarahkan kendaran menuju jalur Palabuhanratu-Ciletuh, sesampainya di kawasan Bagbagan dan Simpang Loji kami memilih belok kiri atau jalur lama Ciletuh.

Untuk mencapai Ciletuh lewat jalur ini memang memakan waktu lebih lama, yakni sekitar tiga sampai empat jam. Karena kontur jalannya yang berliku, melewati perbukitan dan perkebunan teh.

Sebenarnya jika memilih belok kanan di Simpang Loji, kami bisa menghemat waktu sekitar dua jam. Tapi berhubung kami ingin merasa 'lengkap', akhirnya pada saat berangkat kami pilih jalur lama Ciletuh.

"Jalur barunya pas kita balik dari Ciletuh aja deh ya," ujar saya setengah memaksa, kepada dua orang teman.

Mengingat saat ini sudah sangat dimudahkan oleh internet, maka kami pun bertumpu pada peta digital. Namun kendala sinyal menjadi masalah di beberapa titik, akhirnya kami pun mengandalkan insting atau jika sudah mentok maka kami harus bertanya ke penduduk sekitar.

Setelah menempuh perjalanan hampir empat jam melalui jalan perbukitan, akhirnya kami sampai di kawasan Bukit Panenjoan sekitar pukul 15 WIB. Kami pun memarkirkan mobil untuk meregangkan otot sembari memantau pemandangan amfiteater alam yang maha dahsyat ini.

Sayangnya saat kami ke sana, padi baru saja dipanen sehingga hamparan permadani hijau tidak bisa kami lihat. Tapi tetap saja tebing-tebing yang melingkupi kawasan itu tidak mengubah kesan megahnya.

Tentunya kudapan dan es kelapa muda menjadi teman kami untuk memuaskan mata di tempat ini.

Tidak perlu khawatir kelaparan di sini, karena pilihan makanan dan minuman yang dijajakan warung atau gerobak cukup beragam. Meskipun ala kadarnya namun tetap mampu mengenyangkan.

'Meluncur' ke Geopark Ciletuh-Palabuhanratu [EMB]Gardu pandang di kawasan Bukit Panenjoan. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

Fasilitas seperti toilet dan mushola pun tersedia, bahkan ada juga yang menjual bensin eceran untuk mengisi amunisi kendaraan sebelum mengeksplorasi kawasan Geopark.

Peran pedagang bensin eceran di sini sangat bermanfaat, mengingat sepanjang perjalanan dari Simpang Loji hingga Ciletuh kami tidak menemukan pom bensin. Jadi sangat bijaksana jika tangki kendaraan diisi penuh di pom bensin Kota Palabuhanratu, untuk menghindari kemurkaan akibat kehabisan bensin.

Usai menamatkan pemandangan selama satu jam, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Teluk Ciletuh tepatnya ke Pantai Palangpang. Tujuan kami saat itu adalah makan siang menjerumus sore.

Perlu waktu sekitar satu jam berkendara untuk mencapai Pantai Palangpang jika berangkat dari Bukit Panenjoan, untuk itu kami menghindari melihat mentari terbenam di Bukit Palangpang karena selain masih jauh dan menembus kawasan yang rimbun, lampu penerangan jalan pun sangat minim.

Setibanya di Pantai Palangpang, kami dibuat kebingungan oleh menu makanan laut. Banyak sekali warung yang menjual beragam olahan produk laut yang masih segar.

Namun ketika kami menemukan lokasi Tempat Pelelangan Ikan di dekat Pantai Palangpang, akhirnya kami pun memahaminya.

Tanpa pikir panjang, kami pun memilih warung makan secara acak untuk melenyapkan rasa lapar yang mejangkiti tubuh.

"Yang mana aja lah, udah laper bener ini," ujar seorang kawan yang mukanya mendadak melas saat kelaparan.

Warung kecil di depan pintu masuk Pantai Palangpang akhir menjadi tujuan kami untuk bersantap sore sembari menikmati mentari terbenam. Meskipun menunya sederhana, namun pemandangan saat itu bisa dikategorikan mewah.

Usai bersantap sore, kami menuju sebuah penginapan yang terletak tidak jauh dari Curug Cimarinjung. Penginapan itu bernama Bukit Soca. Berbeda dengan penginapan atau homestay lain di kawasan Teluk Ciletuh, Bukit Soca mengedepankan konsep yang jauh lebih alami.

Bambu dan kayu mendominasi bangunan penginapan ini, bahkan ada juga tenda yang disewakan untuk pengunjung yang ingin menikmati sensasi berbeda. Kami memesan sebuah saung yang mampu menampung lima orang.

Jika ingin menikmati kamar yang memiliki pendingin ruangan dan kami dalam, sebaiknya cobalah cari di kawasan Teluk Cimarinjung karena di Bukit Soca tidak menyediakan dua hal itu. Namun pemandangan dari tempat ini, khususnya dari area makan, sangat menyenangkan.

Saat mentari sedang terbit, maka Teluk Ciletuh akan sangat memukau dengan aksen cahaya jingga. Bahkan saat kami bertiga menikmati malam dengan secangkir minuman hangat pun, Teluk Ciletuh masih nampak menawan karena banyak kapal nelayan yang hilir mudik.

Namun jangan lupakan lotion anti nyamuk, karena penginapan ini masih dipenuhi rumpun bambu dan pephonan maka nyamuk jelas menjadi musuh utama. Kami yang tidak memperkirakan hal ini sebelumnya, terpaksa menjadi mangsa nyamuk-nyamuk beringas.

Meskipun semalam kami dibombardir oleh nyamuk, bukan berarti kami tidak semangat menyambut beragam medan yang disediakan oleh Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Usai menikmati beberapa objek wisata di Ciletuh, kami pun beranjak pulang menuju Kota Palabuhanratu. Guna menepati janji kepada dua orang kawan, akhirnya kami memilih lewat jalur baru Ciletuh yang menyisir Pantai Loji.

'Meluncur' ke Geopark Ciletuh-Palabuhanratu [EMB]Jalur baru Ciletuh yang menyusuri kawasan Pantai Loji. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)

Jalur baru ini sangat mulus dan punya pemandangan yang menyenangkan. Durasi pun terpapas sekitar 75 persen. Tinggal ikuti satu-satunya jalan yang ada, maka Simpang Loji akan segera terlihat dalam waktu satu jam perjalanan. Tentu dengan catatan, tidak mampir di jalan untuk mengambil gambar. 

Namun untuk kendaraan berukuran besar, sangat tidak disarankan lewat sini karena jalanannya cukup sempit dan berkelok-kelok. Bahkan jika kendaraan tidak dalam kondisi prima, sebaiknya urungkan niat untuk melewati jalur singkat yang menakjubkan ini. Bagaimana pun keselamatan jauh lebih penting dari pada pemandangan.

(agr/ard)

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2BdMLpf
November 16, 2018 at 07:39PM from CNN Indonesia https://ift.tt/2BdMLpf
via IFTTT
Share: