Showing posts with label 2019 at 10:57PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 10:57PM. Show all posts

Tuesday, January 15, 2019

Osvaldo Haay Bantah Jalin Kontak dengan Persija

Jakarta, CNN Indonesia -- Pemain sayap Timnas Indonesia U-23 Osvaldo Ardiles Haay menepis kabar yang menyebut dirinya bakal menjadi bagian dari Persija Jakarta musim depan. Ia mengaku sampai saat ini belum ada komunikasi dengan pihak manajemen Macan Kemayoran.

Kedekatan Osvaldo ke Persija mulai ramai di media sosial. Terutama sejak pemain 21 tahun itu diketahui mulai mengikuti akun media sosial Instagram Persija.

Kepada CNNIndonesia.com, Osvaldo mengakui ada beberapa orang yang mencoba menghubunginya dengan mengatasnamakan Persija, namun mantan pemain Persipura Jayapura itu tidak terlalu menanggapi hal tersebut.

"Ada orang-orang di luar manajemen Persija yang kontak saya. Ya, selama itu bukan dari manajemen Persija berarti belum resmi dan tidak bisa dianggap serius," kata Valdo melalui sambungan telepon, Selasa (15/1).

Osvaldo Haay (kiri) masih belum menentukan klub untuk musim kompetisi 2019.Osvaldo Haay (kiri) masih belum menentukan klub untuk musim kompetisi 2019. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Meski begitu, Osvaldo tak menutup kemungkinan jika ia bisa saja bergabung dengan Persija musim depan. Sebab, nasibnya bersama Persebaya Surabaya hampir dipastikan sudah berakhir.

Osvaldo dikabarkan dilepas Persebaya Surabaya setelah tidak menemui titik terang dalam negosiasi perpanjangan kontrak yang dilakukan kedua pihak. Meski begitu, ia mengaku belum mendapatkan pernyataan resmi dari Persebaya terkait kepastian tersebut.

"Iya, saya dengar mereka mau lepas saya. Tidak apa-apa, tapi saya masuk ke sana baik-baik, jadi keluar juga harus baik-baik. Saya juga masih menunggu kepastian dari Persebaya, saya juga tidak mau digantung seperti ini," terangnya.

Osvaldo mengaku sudah ada beberapa klub yang sudah menyatakan keinginan untuk merekrutnya, termasuk beberapa kesebelasan asal luar negeri. Bahkan, keinginan dari beberapa klub itu sudah dimulai sebelum musim kompetisi Liga 1 2018 berakhir, November lalu.

Sementara Direktur Utama Persija Jakarta Gede Widiade enggan menanggapi transfer Osvaldo.

"Soal Osvaldo, no comment. Satu-satu dulu. Sekarang [Ivan] Kolev dulu datang," kata Gede. (ttf/bac)

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2RNazcz
January 15, 2019 at 10:57PM from CNN Indonesia http://bit.ly/2RNazcz
via IFTTT
Share:

Thursday, January 10, 2019

Kait Kelindan Artis, Gaya Hidup Glamor, dan Prostitusi

Jakarta, CNN Indonesia -- "Menjemput rejeki di awal tahun 2019." Kalimat itu tertulis dalam unggahan Instagram Story Vanessa Angel saat tiba di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (5/1). Tak lupa, dipamerkannya pula senyum bahagia dalam balutan jumpsuit ungu saat tiba di Town Square Surabaya.

Alih-alih menjemput rezeki, kepergian Vanessa ke Surabaya justru berujung malang. Senyum yang tadi berseri berubah tundukan lesu saat polisi menggiringnya, masih dengan jumpsuit ungu yang sama.

Bintang sinetron dan FTV ini ditangkap lantaran diduga terlibat dalam prostitusi online. Dia ditangkap bersama seorang model majalah dewasa, Avriellia Shaqqila, saat melayani pelanggan di kamar yang berbeda.

Dari penangkapan ini, terkuak 45 artis, mulai dari model hingga penyanyi dangdut, terlibat dalam jaringan prostitusi daring.


Tak ayal, penangkapan Vanessa dan Avriellia bisa jadi memperkuat stigma hidup glamor dan hedonisme yang melekat pada kehidupan artis. Tak hanya prostitusi, sejumlah artis juga terseret kasus narkoba. Keduanya, prostitusi dan narkoba, bukan barang baru dalam dunia keartisan.

Dalam kasus prostitusi, misalnya, kasus yang menimpa Vanessa dan Avriella bukan yang pertama. Sebelumnya, sederet nama besar seperti Amel Alvi juga pernah terseret kasus yang sama.

"Tidak bisa dikatakan artis yang masuk ke dunia prostitusi memiliki latar belakang atau penyebab yang sama, karena masing-masing artis tetap merupakan individu yang berbeda," ujar psikolog klinis, Linda Setiawati, kepada CNNIndonesia.com, Senin (7/1).

Artis berinisial VA (kedua kiri) berjalan keluar usai menjalani pemeriksaan terkait kasus prostitusi daring di Gedung Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/1/2019). Polda Jatim memeriksa artis berinisial VA dan AS dan menetapkan tersangka kepada dua orang yang berperan sebagai mucikari berinisial ES (37) dan TN (28) asal Jakarta dalam kasus tersebut.Artis berinisial VA (kedua kiri) berjalan keluar usai menjalani pemeriksaan terkait kasus prostitusi daring di Gedung Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/1/2019). Polda Jatim memeriksa artis berinisial VA dan AS dan menetapkan tersangka kepada dua orang yang berperan sebagai mucikari berinisial ES (37) dan TN (28) asal Jakarta dalam kasus tersebut. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Tak cuma artis, alasan yang beragam itu juga berlaku pada siapa pun yang terlibat dalam jaringan prostitusi online. Seorang artis biasanya dituntut tampil gaya agar bisa lebih sering muncul di televisi. 

Alhasil, artis yang seyogianya merupakan pekerja seni, justru lebih sering tampil dengan gaya hidup mewah nan glamor. Gaya hidup yang tak membutuhkan biaya sedikit. 

"Materinya juga harus (kelas) atas," ujar antropolog Universitas Padjadjaran, Budi Rajab, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/1).


Untuk menambah penghasilan, beragam cara ditempuh para selebriti ini. Membuka bisnis sampingan seperti kue, travel, desain busana, hingga make up pun dilakoni demi mendapatkan cuan yang lebih menjamin. Cara ini boleh terbilang berat, karena mereka mesti merintis bisnisnya dari awal.

Saat sejumlah artis berani menantang diri dengan merintis bisnis, sebagian artis lain justru memilih jalan pintas yang dirasa lebih 'gampang' untuk menebalkan pundi-pundi rupiahnya, seperti prostitusi, misalnya. Memanfaatkan nama besar sebagai orang populer dianggap mampu meningkatkan nilai jual sang bintang.

Kapolda Jawa Timur Irjen Luki Hermawan bahkan mengungkap ada biaya artis yang mencapai Rp100 juta. Perbedaan ini terjadi berdasarkan tingkat popularitas.

Kendati demikian, artis tetaplah manusia pada umumnya, yang tak bisa disamaratakan. Sebagaimana disampaikan salah satu manager artis, Otto, yang telah wara-wiri berkecimpung di dunia keartisan. Dia menyebut, tak semua artis memiliki gaya hidup mewah.

"Tidak semua seperti itu, kebetulan talent yang saya pegang sehari-harinya tidak harus mahal," kata dia pada CNNIndonesia.com, Kamis (10/1).

Hanya saja, tak dimungkiri, jika dalam beberapa agenda tertentu, artis kerap dituntut tampil mewah lengkap dengan barang mahal. "Harus tampil elegan dan enggak bisa bohong branded tampilannya beda dengan yang bukan," tambah Otto.

Otto sendiri merupakan manajer artis yang sempat memegang beberapa nama besar seperti Prisia Nasution, Fanny Fabriana, dan Mario Irwinsyah. Selama pengalamannya dalam dunia keartisan, tak pernah rasanya Otto mendapatkan tawaran yang mengarah ke dunia prostitusi. 

"Kalau dunia malam saya rasa semua orang bisa, tidak harus profesi artis. Dan pengalaman saya belum pernah ada yang mengajak ujungnya ke prostitusi," ungkap Otto.

Pengaruh faktor sosial

Terjunnya artis ke dunia prostitusi mungkin saja tak semata-mata didorong oleh kebutuhan gaya hidup mewah. Dalam hal ini, sedikit banyak faktor sosial juga turut berperan serta.


Faktor sosial memiliki bentuk yang beragam dan luas. Mulai dari perihal pergaulan hingga relasi antar-artis. Budi Rajab menyebut, faktor yang satu ini juga terbilang memberikan pengaruh yang besar.

Bentuknya kira-kira saling memengaruhi keinginan antar-artis. Apa yang dilakukan seorang artis pelan-pelan menimbulkan keinginan pada artis lain untuk melakukan hal serupa. Di sana ada faktor ajakan dan perilaku ikut-ikutan. Namun sekali lagi, semuanya ini adalah pilihan hidup yang diambil seseorang. 

"Artis yang lain begitu juga, saya ikutan begitu juga enggak apa," ujar Budi mencontohkan. Pola pikir semacam inilah yang pada akhirnya membentuk jaringan prostitusi di kalangan artis.

Sebab, bagaimana pun, dalam kacamata sosial, dunia prostitusi akan selalu berkaitan dengan jaringan sosial. "Relasinya akan selalu berjejaring," kata Budi. (asr)

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2H44rZt
January 10, 2019 at 10:57PM from CNN Indonesia http://bit.ly/2H44rZt
via IFTTT
Share:

Monday, January 7, 2019

Pemberontak Suriah Tangkap 2 Warga AS diduga Militan ISIS

Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak dua warga Amerika Serikat ditangkap oleh pemberontak Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Mereka diduga adalah pejuang kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), dari lokasi penangkapan yang dirahasiakan.

Seperti dilansir CNN, Senin (7/1), kedua warga AS yang ditangkap di Suriah itu bernama Warren Christoper Clark alias Abu Mohammad al-Ameriki, dan Zaid Abed al-Hamid alias Abu Zaid al-Ameriki.

Dari hasil interogasi SDF, Clark diketahui berasal dari Houston, negara bagian Texas. Sedangkan latar belakang Zaid belum diketahui.

Kedua warga AS tersebut ditangkap dalam sebuah kelompok yang di dalamnya juga terdapat warga Irlandia dan Pakistan. Juru bicara Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) mengatakan peristiwa ini sedang diselidiki.

"Kami mengetahui laporan dari sumber terbuka mengenai warga Amerika yang saat ini dilaporkan dalam tahanan yang diyakini memperjuangkan ISIS. Namun, kami belum dapat mengkonfirmasi informasi tersebut" kata Komandan Sean Robertson.

Bulan lalu, Gedung Putih mengklaim ISIS di Suriah berhasil ditaklukkan dan AS akan menarik 2.000 pasukannya dari wilayah yang sedang dilanda perang tersebut.

Pada Oktober 2018, pasukan Amerika Serikat telah membebaskan warga negaranya yang diduga sebagai anggota ISIS yang tertangkap di Suriah.

Warga dengan kewarganegaraan ganda AS-Saudi ini ditahan oleh militer AS di Irak tanpa diadili sejak September 2017. Nasibnya masih menjadi perdebatan hukum selama berbulan-bulan antara pemerintah AS dan Persatuan Kebebasan Sipil Amerika Serikat.

Saat dia dibebaskan, CNN melaporkan sampai saat ini SDF menahan lebih dari 700 milisi asing dari 40 negara. Mereka diduga bergabung dengan ISIS dan kelompok lain.

Para pejabat AS telah mendorong negara-negara yang bersangkutan untuk memulangkan warganya yang berada dalam tahanan di Suriah, untuk meringankan beban fasilitas penahanan SDF. Namun, banyak negara enggan melakukannya karena kesulitan untuk menuntut tersangka anggota ISIS berdasarkan bukti yang dikumpulkan di medan perang. (syf/ayp)

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2Fc3SLd
January 07, 2019 at 10:57PM from CNN Indonesia http://bit.ly/2Fc3SLd
via IFTTT
Share: